Creation Details
Panel prompts:
- #1“Al: Di Balik Kacamata dan Rambut Berantakan Di sudut ruang kelas, tepat di sebelah jendela yang kacanya agak kusam tertiup debu, duduklah seorang remaja bernama Al. Penampilannya sungguh biasa-biasa saja, bahkan terkesan tidak pernah diurus. Rambut hitamnya tumbuh panjang dan selalu tampak acak-acakan, seolah tidak pernah tersentuh sisir berhari-hari. Di atas hidungnya, terpasang sepasang kacamata berbingkai tebal dan agak besar yang menutupi sebagian besar wajahnya, membuat ekspresi matanya sulit dibaca. Di lingkungan sekolah, begitulah Al menampilkan dirinya setiap hari. Ia selalu memilih duduk di pojok terjauh, menjauh dari keramaian dan hiruk-pikuk teman-temannya. Bagi teman sekelasnya, Al adalah sosok yang aneh dan sulit didekati. Saat jam pelajaran berlangsung maupun saat istirahat, ia lebih sering menatap kosong ke luar jendela, mengamati awan yang berarak perlahan di langit biru, atau tenggelam dalam dunianya sendiri lewat halaman-halaman novel ringan yang selalu ia bawa di dalam tas. Ia jarang berbicara, jarang tertawa, dan memiliki pola hidup yang sangat teratur: datang tepat waktu, duduk diam seharian, lalu pulang tepat saat bel sekolah berbunyi. Karena sikapnya yang tertutup dan penampilannya yang tidak mementingkan diri sendiri, banyak teman sekelasnya yang menganggap Al hanyalah anak pendiam yang tidak punya keahlian khusus, sedikit aneh, dan tidak perlu terlalu dipedulikan. Namun, tidak ada satu pun teman sekelasnya yang tahu rahasia besar yang tersembunyi di balik penampilan itu. Di balik kacamata tebal dan rambut yang berantakan itu, tersembunyi wajah yang sangat tampan dan mempesona. Garis rahangnya yang tegas, matanya yang tajam dan indah, serta raut wajahnya yang menawan adalah hal-hal yang sengaja ia sembunyikan dari pandangan semua orang. Al tidak suka menjadi pusat perhatian, tidak suka dilihat orang banyak, dan tidak suka menjadi bahan pembicaraan. Baginya, ketenaran hanya membawa masalah dan gangguan, sesuatu yang sudah cukup ia rasakan dan ia tinggalkan di masa lalu. Oleh karena itu, ia menciptakan topeng penampilan itu agar bisa hidup tenang. Hanya saat ia berada di dalam rumah, atau saat ia pergi menemani adik perempuannya, Livia, berbelanja ke pusat perbelanjaan, barulah ia melepas kacamatanya, merapikan sedikit rambutnya, dan membiarkan penampilan aslinya terlihat. Sore itu, seperti kebiasaan mereka berdua, Al sedang menemani Livia berkeliling pusat perbelanjaan yang cukup ramai pengunjung. Saat sedang berjalan melewati lorong yang agak sepi di dekat deretan toko pakaian, Livia tiba-tiba menarik lengan kakaknya dan menunjuk ke arah ujung lorong itu dengan wajah khawatir. "Kak, lihat deh... ada gadis itu sepertinya sedang digangguin sama beberapa orang," ucap Livia pelan. Al mengikuti arah telunjuk adiknya, dan pandangannya langsung tertuju pada kerumunan kecil itu. Ada tiga orang pemuda berbadan besar yang berdiri mengelilingi seorang gadis yang tampak ketakutan dan terpojok di dinding lorong. Mereka tertawa-tawa keras sambil mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, berusaha menggoda dan sengaja menghalangi jalan gadis itu agar tidak bisa lewat. Saat Al menatap wajah gadis itu lebih jelas, matanya sedikit membelalak karena terkejut. Gadis yang sedang diganggu itu adalah Luna. Ia adalah adik kelasnya di sekolah, dan yang lebih mengejutkan lagi, Luna adalah adik kandung dari Jasmin Natasha, ketua OSIS yang paling disegani, populer, dan berpengaruh di sekolah mereka. Tanpa pikir panjang lagi, Al langsung menoleh ke arah Livia dan berpesan dengan nada tenang namun tegas, "Livia, kamu tunggu di sini ya, jangan kemana-mana dan jangan ikut mendekat. Kakak mau ke sana sebentar." Livia mengangguk patuh, dan Al pun berjalan santai namun penuh keyakinan menuju kerumunan itu. Langkah kakinya berat dan mantap, dan aura dingin yang biasa ia kunci rapat-rapat perlahan mulai keluar. Ia berhenti tepat di belakang salah satu pemuda yang paling besar badannya, lalu menepuk bahu pemuda itu dengan cuku”
Art Style: Classic Action
Color Mode: Full Color
Panels: 1
Created: