Creation Details
Prompt: Bab 1 - Peradaban Yang Luruh Langit berwarna kelam, seperti kanvas kelabu yang menangisi dunia. Di tengah puing-puing dunia yang hancur, dua sosok berdiri saling berhadapan. Angin menggerakkan debu dan reruntuhan. Sunyi. Mencekam. Bayu, dengan tatapan kosong namun penuh tekad, berkata lirih: > Bayu: “Tak kusangka... Kau bisa sampai sejauh ini, Angga.” Angga tersenyum pahit. Matanya yang dulu penuh harapan, kini dihiasi kesedihan yang dalam. > Angga: “Kenapa kau melakukan semua ini... Bay?” Bayu mengepalkan tangan kanannya. Retakan kecil muncul di tanah di bawah kakinya. Dari kepalan tangan itu, segel misterius berwarna merah hitam muncul, menjalar hingga ke wajah sisi kanannya. Aura itu berdenyut pelan, seperti jantung iblis yang hidup di dalam dirinya. > Bayu: “Peradaban manusia... telah berakhir.” Angga menunduk sejenak, lalu mengangkat kepalanya. Ia memejamkan kedua matanya lalu membukanya, blue eyes. Gema Antony muncul di belakangnya, siluet samar berwarna biru tua yang memancarkan ketenangan dan kekuatan. Sebagian kekuatan Antony kini berada di dalam diri Angga. > Angga: “Iya... Kau benar. Peradaban manusia memang telah berakhir.” Ia menatap Bayu tajam, suaranya bergetar antara marah dan sedih. > Angga: “Tapi aku... aku masih seorang manusia.” Bayu tersenyum tipis. > Bayu: “Kau masih memegang harapan itu, ya? Harapan yang dulu kita bagi bersama…” Angga diam. Keduanya saling menatap, bukan lagi sebagai teman, tapi sebagai dua jalan yang tak lagi sama, dua nasib yang ditulis di ujung dunia. Angin berhenti berhembus. Langit bergetar. Aura merah dan biru mulai saling menekan, menggetarkan udara di antara mereka. Satu detik hening, lalu dunia meledak dalam cahaya. (TRANSITION) > “Tapi semua ini... tidak terjadi begitu saja.” > “Mari kita ulang kembali... kisah ini.” > “Beberapa tahun sebelum dunia benar-benar hancur.” Beberapa Tahun Sebelumnya. Masa Kecil Bayu dan Angga Sinar matahari senja menembus pepohonan di tepian desa kecil bernama Rovelle, salah satu dari sedikit tempat yang masih damai di dunia Evolt kala itu. Suara anak-anak bermain terdengar dari kejauhan, burung-burung melintas di langit jingga. Di tepi sungai kecil, dua bocah berlarian sambil membawa tongkat kayu. Mereka adalah Bayu dan Angga, dua anak lelaki yang seakan tak terpisahkan. Suara air sungai mengalun lembut di bawah sinar sore. Di tepi sungai itu, dua anak laki-laki saling berkejaran, tertawa lepas tanpa beban dunia. Bayu, dengan rambut hitam acak-acakan, meloncat dari batu ke batu sambil membawa ranting kayu. > Bayu: “Heh! Kau terlalu lambat, Angga!” Angga, yang berambut sedikit lebih terang tersenyum sambil mengejar. > Angga: “Kau curang! Tadi kau mulai duluan!” Bayu tertawa keras, menancapkan ranting itu ke tanah. > Bayu: “Dalam perang, siapa yang lambat, akan kalah!” > Angga: “Tapi dalam hidup, bukan yang cepat yang menang, Bay. Tapi yang tahu kapan harus berhenti.” Bayu terdiam sejenak, lalu mencibir kecil. > Bayu: “Dasar kau... bicaramu seperti orang dewasa saja.” > Angga: “Dan kau seperti anak kecil yang tidak tahu apa itu arti tenang.” Keduanya terdiam sebentar, tapi tawa kembali pecah di antara mereka. Dua anak itu tampak tak terpisahkan, berbeda, tapi saling melengkapi. Sore mulai memudar, langit mulai jingga. Mereka duduk di tepi sungai sambil melempar batu kecil ke air. Bayu menatap pantulan dirinya di permukaan sungai. > Bayu: “Angga... menurutmu, apakah dunia ini bakal tetap seperti ini? Tenang, damai?” Angga menatap langit. > Angga: “Entahlah... Tapi kalau pun dunia ini hancur, aku ingin berada di sisimu, Bay.” Bayu tersenyum samar. > Bayu: “Hmph... Jangan menangis jika nanti kalau aku yang menjadi alasan dunia ini hancur.” Angga menatapnya, seolah merasa firasat aneh dari kata-kata itu. Malam turun, angin bertiup lembut. Di kejauhan, bintang pertama muncul, bersinar redup, seolah menyimpan janji masa depan yang suram. > “Dari tawa dan janji masa kecil itu, takdir mulai menulis garisnya. Dua sahabat... yang kelak akan menjadi dua kekuatan yang saling menghancurkan.”
Art Style: Classic Action
Color Mode: Black & White
Panels: 1
Created:
Manga Story #1272 - AI Manga | Mangii | Mangii