Creation Details
Prompt: “Rizky berdiri di depan gerbang sekolah barunya. Pagi itu terasa berbeda—udara dingin, suasana asing, dan perasaan gugup bercampur jadi satu.
“Semoga hari ini lancar…” gumamnya pelan.
Saat ia melangkah masuk, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
“Lo anak baru, ya?”
Rizky menoleh. Seorang cowok dengan senyum santai berdiri di belakangnya.
“Iya… gue Rizky.”
“Gue Jibril. Santai aja, gue temenin. Kebetulan gue juga lagi nggak ada kerjaan pagi ini.”
Sejak saat itu, mereka langsung akrab. Jibril menunjukkan lingkungan sekolah, kantin, bahkan tempat-tempat ‘nongkrong’ favorit. Hari pertama Rizky jadi jauh lebih mudah karena Jibril.
Hari-hari berlalu.
Mereka selalu bersama—belajar bareng, bercanda, bahkan sering pulang bareng. Persahabatan itu bertahan hingga mereka naik kelas, sampai akhirnya mereka berada di kelas 3 SMA.
Namun, satu hal berubah.
Mereka tidak lagi satu kelas.
Pagi itu, suasana terasa aneh.
“Ky, gue anterin ke kelas lo dulu ya,” kata Jibril.
“Yaudah, sekalian aja.”
Koridor sekolah terlihat lebih sepi dari biasanya. Tidak ada suara ramai siswa, hanya langkah kaki mereka yang bergema pelan.
“Sepi banget ya…” ujar Rizky.
“Iya… biasanya udah ribut dari tadi.”
Saat mereka mendekati kelas Rizky, tiba-tiba Jibril berhenti.
“Ky…”
Rizky ikut berhenti. “Kenapa?”
Jibril menunjuk ke arah depan.
Di lantai, terlihat sesuatu yang tidak biasa.
Jejak merah.
Rizky menelan ludah. “Itu… apa?”
Mereka berjalan perlahan mendekat. Pintu kelas sedikit terbuka.
Jibril mendorongnya pelan.
CREEEK…
Apa yang mereka lihat membuat mereka membeku.
Guru mereka tergeletak tak bergerak… dan di sudut kelas, sosok aneh berdiri dengan gerakan tidak wajar.
Makhluk itu perlahan menoleh ke arah mereka.
Wajahnya pucat, matanya kosong… dan gerakannya kaku.
Rizky mundur dengan napas gemetar. “Itu… bukan manusia…”
Makhluk itu mengeluarkan suara rendah yang mengerikan dan mulai melangkah mendekat.
“LARI, KY!” teriak Jibril.
Tanpa berpikir panjang, mereka langsung berbalik dan berlari secepat mungkin menyusuri koridor yang kini terasa seperti neraka.
Suara langkah kaki mereka berpacu dengan rasa takut yang semakin besar.
“Apa yang terjadi…?” teriak Rizky panik.
“Gue nggak tahu! Tapi kita harus keluar dari sini!”
Di belakang mereka, suara langkah lain mulai terdengar…
Lebih banyak.
Lebih berat.
Lebih menyeramkan.”
Art Style: Classic Action
Color Mode: Full Color
Panels: 1
Created: