Creation Details
Panel prompts:
  1. #1Hinata Mizore, 27 Tahun Ada foto di ponselnya dari reuni angkatan tiga tahun lalu. Dua puluh empat orang. Semuanya tersenyum dengan cara yang berbeda-beda — ada yang senyum karena senang, ada yang senyum karena kamera, ada yang senyum karena memang itulah yang dilakukan orang di depan kamera meskipun hari itu tidak sepenuhnya menyenangkan. Hinata ada di barisan belakang, sedikit ke kanan. Senyumnya termasuk kategori ketiga. Bukan karena tidak suka dengan orang-orang di foto itu — mereka teman-teman lamanya, orang-orang yang sudah mengenal versi-versi dirinya yang berbeda dari yang sekarang. Tapi reuni selalu punya caranya sendiri untuk membuat seseorang merasakan jarak — bukan jarak waktu atau jarak tempat, tapi jarak antara di mana mereka sekarang dan di mana seharusnya mereka berada kalau mengikuti garis yang sudah ada di bayangan orang-orang di sekitarnya. Dua puluh empat orang. Sembilan belas sudah punya pasangan. Tiga belas sudah menikah. Lima sudah punya anak. Dan Hinata Mizore ada di barisan belakang, sedikit ke kanan, dengan senyum kategori ketiga. Waktu SMA, tidak ada yang namanya terlambat di kamus Hinata. Kamus Hinata waktu itu — kalau ada yang sempat membuatnya secara fisik — isinya hal-hal seperti: nilai, tujuan, rencana, karir, pencapaian. Hal-hal yang punya garis yang jelas dari titik A ke titik B dan bisa diukur dengan angka atau dengan prestasi yang bisa ditempel di dinding. Romansa tidak masuk kamus itu. Bukan karena ditolak secara aktif — lebih karena tidak pernah cukup terasa relevan untuk diberi tempat. Ada yang pernah mencoba mendekatinya waktu SMA, satu atau dua, yang membuat gerakan yang mestinya jelas tapi Hinata baca sebagai hal lain atau tidak baca sama sekali karena perhatiannya ada di tempat yang berbeda. Teman-temannya waktu itu — yang kalau diingat sekarang campurannya antara geli dan sayang — sudah repot dengan urusan-urusan yang bagi mereka terasa sangat penting. Siapa menyukai siapa. Siapa mengirim pesan ke siapa. Drama-drama kecil yang berputar di ekosistem yang sama. Hinata duduk di perpustakaan dan membaca. Nanti, pikirnya waktu itu. Setelah ini selesai. Ini ternyata tidak pernah benar-benar selesai. Setelah SMA ada kuliah, yang punya versi yang lebih besarnya dari semua yang sudah ada di SMA. Lebih banyak hal yang perlu diselesaikan, lebih banyak hal yang perlu dicapai. Hinata melanjutkan seperti caranya selalu — kepala ke depan, mata ke tujuan, langkah yang tidak terlalu banyak menyimpang. Lulus. IPK yang tidak mengecewakan. Sertifikat mengajar. Lamaran. Diterima. SMA Hanamori, guru Bahasa Jepang. Dan di suatu titik, di tahun ketiga mengajar, Hinata duduk di ruang guru yang sudah sepi setelah jam terakhir dan menyadari bahwa nanti yang selalu ia taruh di saku untuk diambil belakangan entah kapan sudah tidak ada di sana lagi. Bukan hilang — lebih ke sudah ketinggalan di suatu tempat yang tidak bisa ia ingat persisnya di mana. Reuni pertama setelah lulus kuliah: dua puluh dua orang hadir. Tiga sudah punya pacar serius. Dua sudah bertunangan. Reuni kedua: delapan sudah menikah. Satu sedang hamil pertama. Reuni ketiga: yang dengan foto di ponselnya itu. Sembilan belas sudah punya pasangan. Lima sudah punya anak. Dan teman-teman yang baik itu — yang sudah hafal cara Hinata selalu menjawab pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama setiap reuni — memberikan saran dengan cara orang-orang yang peduli tapi tidak tahu cara lain untuk mengekspresikan kepeduliannya selain dengan solusi yang menurut mereka logis. Coba aplikasi kencan. Ada teman yang cocok, mau dikenalkan? Kamu terlalu pemilih, Hina. Kamu tidak cukup berusaha. Hinata menerima semua saran itu dengan cara yang sudah sangat terlatih — tersenyum, mengangguk, berkata mungkin, yang artinya berbeda-beda tergantung konteksnya tapi tidak pernah benar-benar iya, aku akan coba. Tapi kemudian ia mencoba. Karena ada titik di mana tidak mencoba terasa lebih melelahkan dari mencoba. Kencan pertama: laki-laki baik yang ternyata masih belum sepenuhn
  2. #2Ada foto di ponselnya dari reuni angkatan tiga tahun lalu. Dua puluh empat orang. Semuanya tersenyum dengan cara yang berbeda-beda — ada yang senyum karena senang, ada yang senyum karena kamera, ada yang senyum karena memang itulah yang dilakukan orang di depan kamera meskipun hari itu tidak sepenuhnya menyenangkan. Hinata ada di barisan belakang, sedikit ke kanan. Senyumnya termasuk kategori ketiga. Bukan karena tidak suka dengan orang-orang di foto itu — mereka teman-teman lamanya, orang-orang yang sudah mengenal versi-versi dirinya yang berbeda dari yang sekarang. Tapi reuni selalu punya caranya sendiri untuk membuat seseorang merasakan jarak — bukan jarak waktu atau jarak tempat, tapi jarak antara di mana mereka sekarang dan di mana seharusnya mereka berada kalau mengikuti garis yang sudah ada di bayangan orang-orang di sekitarnya. Dua puluh empat orang. Sembilan belas sudah punya pasangan. Tiga belas sudah menikah. Lima sudah punya anak. Dan Hinata Mizore ada di barisan belakang, sedikit ke kanan, dengan senyum kategori ketiga.
Art Style: Soft Romance
Color Mode: Black & White
Panels: 2
Created: